Beranda / REGIONAL / SEMARANG / Kajian KNKT Dorong Penanganan Komprehensif Turunan Silayur

Kajian KNKT Dorong Penanganan Komprehensif Turunan Silayur

SEMARANG, obyektif.tv – Kawasan Jalan Prof. Hamka atau Turunan Silayur di Kota Semarang kini menjadi perhatian serius dalam upaya penguatan keselamatan jalan. Kajian teknis yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama Dinas Perhubungan Kota Semarang mendorong penanganan kawasan tersebut secara lebih komprehensif dan berbasis data.

Hasil kajian memetakan berbagai faktor yang memengaruhi tingkat risiko di Turunan Silayur, mulai dari kondisi geometrik jalan, tingkat kelandaian ekstrem, lalu lintas campuran kendaraan berat dan ringan, hingga aktivitas kawasan industri dan permukiman di sekitarnya.

Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menilai pendekatan yang dilakukan saat ini menunjukkan perkembangan positif dalam penanganan infrastruktur eksisting yang memiliki risiko tinggi.

“Ini contoh kasus yang sangat lengkap. Ada aspek kemiringan ekstrem, aktivitas industri, permukiman, sampai perilaku lalu lintas yang semuanya saling beririsan,” ujarnya.

Berdasarkan evaluasi KNKT, ruas Jalan Prof. Hamka sepanjang sekitar 10 kilometer memiliki tingkat kelandaian mencapai 16 persen. Angka tersebut jauh di atas standar ideal jalan di kawasan perbukitan dan menjadi tantangan teknis tersendiri dalam pengelolaan keselamatan lalu lintas.

Persoalan geometrik jalan di kawasan tersebut merupakan bagian dari pembangunan infrastruktur yang telah dirancang dan dilaksanakan pada periode sebelumnya. Pemerintah Kota Semarang saat ini berupaya memperkuat penanganan dari sisi keselamatan dan manajemen lalu lintas agar risiko kecelakaan dapat ditekan.

Sejumlah langkah mitigasi terus diperkuat, di antaranya pemasangan rambu peringatan, pembatasan jam operasional kendaraan besar, serta edukasi keselamatan bagi pengemudi. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan pengguna jalan di kawasan Turunan Silayur.

Selain itu, penataan kawasan sekitar Bukit Semarang Baru (BSB) juga mulai diarahkan lebih terukur. Pengendalian pertumbuhan industri hingga penyediaan jalur alternatif menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara mobilitas dan keselamatan.

Melalui penguatan berbasis kajian teknis dan kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kota Semarang berharap penanganan Turunan Silayur dapat menjadi model pengelolaan jalan menurun ekstrem di kawasan perkotaan. Pendekatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga mencakup keberlanjutan sistem keselamatan bagi masyarakat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *