SEMARANG, obyektif.tv – Di tengah aksi unjuk rasa driver ojek online (ojol) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (20/5/2026), kisah perjuangan seorang driver ojol perempuan menyita perhatian. Ia adalah Ratna Yuniarti (33), warga Kota Semarang yang setiap hari harus bekerja sambil mengasuh anak bungsunya di jalanan.
Ratna datang ke lokasi aksi dengan menggandeng anak ketiganya yang masih berusia 2 tahun 7 bulan. Kehadirannya menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang saat itu duduk lesehan bersama para pengemudi ojol di tangga beranda kantor gubernur.
Luthfi kemudian memanggil Ratna dan anaknya untuk mendekat. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan santai. Bahkan, gubernur sempat menggendong bocah kecil tersebut sambil mendengarkan cerita perjuangan Ratna sebagai driver ojol perempuan.
Ratna mengaku sudah menjadi driver ojol sejak 2017. Kini, ia harus menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia sejak Desember 2025.
“Rumah di Asrama TNI AD Mrican, tapi sekarang ngekos di Lamper. Sudah lama jadi driver ojol, sejak tahun 2017 sampai sekarang. Suami saya jadi TKI di Malaysia sejak Desember 2025,” ujar Ratna.
Setiap hari, Ratna mulai bekerja sejak pukul 05.30 hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Selama bekerja, anak bungsunya selalu ikut bersamanya menyusuri jalanan Kota Semarang. Sementara dua anak lainnya masih duduk di bangku sekolah dasar, masing-masing kelas 1 dan kelas 3 SD.
Bagi Ratna, bekerja sambil mengasuh anak bukan pilihan yang mudah. Namun keterbatasan ekonomi membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Ia mengaku tidak mampu membayar pengasuh anak, sementara meninggalkan anak di rumah juga membuatnya khawatir.
“Kalau ngojek online sambil momong anak dari pagi sampai sore. Kalau mau ambil orang buat momong nggak sanggup bayarnya. Was-was juga setiap ajak anak, tapi mau gimana lagi. Kalau nggak kerja nggak bisa makan,” tuturnya lirih.
Ratna mengatakan, banyak driver ojol perempuan lain yang mengalami kondisi serupa. Karena itu, ia mendukung rencana penyediaan fasilitas day care bagi driver ojol yang diwacanakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Setuju saja kalau ada day care, soalnya ada teman ojol lain yang juga kerja sambil momong anak,” katanya.
Selain persoalan pengasuhan anak, Ratna juga menyoroti beratnya tekanan ekonomi yang dihadapi para driver ojol. Dalam sehari, ia rata-rata menyelesaikan sekitar 10 orderan dengan pendapatan kotor Rp70 ribu hingga Rp80 ribu. Setelah dipotong aplikasi dan biaya operasional, penghasilan bersih yang dibawa pulang hanya sekitar Rp40 ribu sampai Rp50 ribu.
Menanggapi aspirasi para driver ojol, Ahmad Luthfi mengatakan pemerintah provinsi akan terus mengawal tuntutan mereka. Menurutnya, persoalan transportasi online tidak hanya terkait tarif, tetapi juga belum adanya payung hukum yang jelas mengenai hubungan kemitraan antara perusahaan aplikasi dan driver.
“Sudah saya sampaikan, akan kita kawal. Kita harus melakukan mediasi dengan mitra karena sifatnya kemitraan, sehingga ada komunikasi dari kedua belah pihak antara mitra dan perusahaan,” kata Luthfi.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjut dia, juga telah mengirim surat kepada Kementerian Perhubungan terkait tuntutan para driver ojol. Bahkan, pihaknya berencana mengajak perwakilan driver untuk bertemu langsung dengan Menteri Perhubungan di Jakarta.
“Kita sudah wadahi dan akan kawal terus. Persoalan ini tidak hanya di Jawa Tengah, tapi semua provinsi juga sama. Kita akan telusuri sumbatannya ada di mana,” ujarnya.
Terkait tuntutan revisi SK Gubernur Jawa Tengah mengenai transportasi online, Luthfi menyebut telah menginstruksikan peninjauan ulang agar menyesuaikan aspirasi driver.
“Driver ojol itu sifatnya mitra, bukan pegawai. Jadi harus didudukkan bersama dan kami siap memfasilitasi kedua belah pihak,” katanya. ***










