SEMARANG, obyektif.tv – Gambang Semarang Art Company (GSAC) menutup rangkaian panjang Festival Bubak Semarang melalui kegiatan Workshop Batik Nyi Bubak yang digelar bersama TP PKK RW 4 Kelurahan Krapyak, Kota Semarang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30–31 Mei 2026, di Sekretariat GSAC Krapyak itu diikuti puluhan peserta dari lingkungan setempat.
Direktur GSAC, Tri Subekso, mengatakan workshop membatik tersebut menjadi penanda berakhirnya Festival Bubak Semarang yang telah berjalan sejak Januari 2025 melalui dukungan program Dana Indonesiana.
“Festival ini kami mulai sejak Januari 2025 dengan pembukaan kegiatan, kemudian kunjungan Wakil Menteri Kebudayaan, lokakarya, hingga pertunjukan di empat titik kawasan bersejarah di Semarang. Setelah seluruh rangkaian selesai, kami menutupnya dengan pelatihan membatik,” kata Mas Bekso, sapaan akrabnya, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, Festival Bubak Semarang sebelumnya menghadirkan pertunjukan di Kampung Sekayu, kawasan Pecinan, Kauman, hingga Krapyak. Seluruh rangkaian mengangkat tokoh fiktif bernama Nyi Bubak, yang menjadi ikon utama festival.
Mas Bekso menjelaskan, pelatihan membatik dipilih sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan, sekaligus upaya memperkenalkan motif batik yang terinspirasi dari karakter Nyi Bubak.
“Nyi Bubak merupakan tokoh perempuan fiktif yang hadir dalam setiap latar zaman pada pertunjukan Festival Bubak Semarang. Visual tokoh ini kemudian dikembangkan menjadi logo sekaligus motif batik yang kami perkenalkan kepada masyarakat,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak mempelajari teknik membatik sekaligus mengaplikasikan motif Nyi Bubak ke dalam karya mereka. Motif utama tersebut dipadukan dengan berbagai ornamen pendukung yang dikembangkan bersama tim kurator dan pendamping batik.
Workshop tersebut mendapat pendampingan dari perajin batik asal Kabupaten Semarang, Mahfud Fauzi. GSAC sengaja membatasi peserta dari satu wilayah agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif.
“Peserta yang terdaftar sebanyak 25 orang, namun pada hari pertama yang hadir mencapai 33 orang. Kami fokus pada ibu-ibu PKK RW 4 Krapyak agar pendampingannya lebih maksimal,” jelas Mas Bekso.
Lebih jauh, ia mengaku terharu karena Festival Bubak Semarang menjadi perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak selama sekitar satu setengah tahun. Menurutnya, program tersebut tidak hanya melahirkan pertunjukan seni, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas bidang, mulai dari literasi, seni visual, pameran hingga batik.
“Melalui festival ini kami mencoba menghadirkan sesuatu yang baru. Semangat yang kami bawa tetap semangat Gambang Semarang sebagai kesenian hibrida yang lahir dari pertemuan budaya Jawa dan Tionghoa, yang menjunjung pluralitas dan menjadi wajah Kota Semarang,” katanya.
Mas Bekso menambahkan, ke depan GSAC berkeinginan terus menghadirkan festival serupa dengan mengangkat kekayaan sejarah dan budaya lokal. Ruang-ruang publik serta kawasan bersejarah akan tetap menjadi fokus pengembangan pertunjukan yang dekat dengan masyarakat.
“Kami ingin Gambang Semarang tetap menjadi kesenian rakyat, hadir di tengah masyarakat tanpa sekat. Masih banyak kampung dan kawasan yang memiliki sejarah panjang dan cerita menarik untuk diangkat pada program-program berikutnya,” pungkasnya. ***







