KABUPATEN SEMARANG, obyektif.tv – Puluhan pemain cilik Sanggar Condrowinoto sukses menghidupkan seni ketoprak melalui pementasan lakon Sang Kusuma Wilis di kawasan Dampu, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (26/6/2026). Tak sekadar menghibur, pementasan tersebut juga menjadi media untuk mewariskan semangat juang tokoh pahlawan perempuan, Nyi Ageng Serang, kepada generasi muda.
Meski udara malam terasa dingin, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Ratusan penonton memadati lokasi pertunjukan, sementara puluhan pedagang turut meramaikan suasana dengan menjajakan berbagai dagangan.
Keunikan pertunjukan ini terletak pada seluruh pemerannya yang merupakan anak-anak anggota Sanggar Condrowinoto. Dengan penuh percaya diri, mereka memerankan setiap tokoh, menampilkan dialog, gerak tari, serta ekspresi yang memikat. Celotehan khas anak-anak yang muncul di sela pementasan pun beberapa kali mengundang tawa penonton, disusul tepuk tangan meriah atas penampilan mereka.
Pimpinan Sanggar Condrowinoto, R. Ngt Eropeana Puspitasari, mengatakan lakon Sang Kusuma Wilis dipilih karena terinspirasi dari semangat perjuangan Nyi Ageng Serang dalam melawan penjajah.
“Semangat perjuangan itulah yang ingin kami wariskan kepada anak-anak melalui seni ketoprak, sehingga mereka tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga memahami nilai-nilai kepahlawanan dan cinta tanah air,” ujarnya.
Ana, sapaan akrabnya, menjelaskan pementasan tersebut merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari pendadaran atau ujian kenaikan tingkat bagi para murid sanggar. Tahun ini, kegiatan diikuti sekitar 80 siswa dari total 100 siswa aktif.
“Pendadaran dilaksanakan setiap liburan sekolah mengikuti pola pendidikan formal. Setelah ujian, kami juga membagikan rapor sekaligus membuka pendaftaran siswa baru,” katanya.
Menurut Ana, minat masyarakat terhadap pertunjukan ketoprak anak terus meningkat setiap tahun. Karena itu, dalam tiga tahun terakhir pementasan dipindahkan dari pendopo sanggar ke pelataran Dampu agar dapat menampung lebih banyak penonton.
Ia menegaskan, pelatihan dan pementasan ketoprak bukan hanya bertujuan melestarikan kesenian tradisional, tetapi juga membentuk karakter generasi muda agar tetap berpegang pada nilai-nilai budaya Jawa dan jati diri bangsa.
“Kami berharap mereka tumbuh menjadi generasi penerus yang berkarakter, mencintai budayanya, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Nusantara,” tuturnya.
Salah seorang penonton, Winoto, mengaku bangga melihat anak-anak mampu memainkan ketoprak dengan baik. Menurutnya, kehadiran pemain cilik menjadi harapan baru bagi keberlangsungan seni tradisional.
“Senang melihat ada generasi penerus pemain ketoprak. Kesenian ini jangan sampai hilang dan harus terus dilestarikan,” katanya. ***







