SEMARANG, obyektif.tv – Pelestarian budaya dan penguatan toleransi antarumat beragama menjadi pesan utama dalam perayaan hari ulang tahun ke-15 Tempat Ibadah Tri-Dharma (TITD) Yue Yang Tang di Jalan Rejosari II, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Sabtu (17/10/2026). Perayaan tersebut memadukan rangkaian ritual keagamaan dengan pertunjukan seni, termasuk penampilan maestro tari Didi Nini Thowok.
Pembina TITD Yue Yang Tang, Sony Sumarli, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak melupakan akar budaya di tengah perkembangan zaman.
“Wong Jowo ojo ilang Jowone, wong Cino ojo ilang Cinone,” ujar Sony.
Menurutnya, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan tradisi. Ia berharap generasi muda semakin tertarik mengenal budaya, aktif mengikuti kegiatan di klenteng, serta turut menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat.
Pesan tersebut sejalan dengan konsep perayaan yang menghadirkan akulturasi budaya melalui seni pertunjukan. Tidak hanya diikuti umat klenteng, kegiatan ini juga menarik perhatian warga sekitar yang datang untuk menyaksikan rangkaian acara.
Perayaan dimulai pukul 09.00 WIB dengan ritual naik sesaji Seng Tian. Rangkaian kegiatan berlanjut pada sore hari melalui penempelan hu, pertunjukan barongsai dan liong, serta Cia Ping An. Pada malam hari, umat mengikuti sembahyang kebesaran sebelum acara berlanjut dengan pertunjukan seni.
Suasana klenteng semakin ramai menjelang malam. Pertunjukan barongsai dan liong dari Liong Gedawangan Dharma Asih menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang memadati lokasi acara.
Antusiasme penonton semakin terasa saat Didi Nini Thowok tampil membawakan tari komedi Walang Kekek pada pukul 19.30 WIB. Maestro tari asal Yogyakarta tersebut berhasil menghibur penonton melalui gerakan ekspresif dan unsur komedi yang menjadi ciri penampilannya.
Sejumlah pengunjung tampak menikmati pertunjukan sembari mengabadikan momen melalui telepon genggam. Kehadiran Didi Nini Thowok sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal seni tradisi dalam suasana yang dekat dan menghibur.
Usai pertunjukan, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan tanya jawab. Pengunjung yang ingin berfoto bersama sang maestro dapat membeli kaus bergambar Didi Nini Thowok di stan yang disediakan panitia. Hasil penjualan kaus tersebut diperuntukkan bagi pemberdayaan TITD Yue Yang Tang.
Dalam sesi dialog yang dipandu pembawa acara, Didi Nini Thowok menjawab pertanyaan pengunjung mengenai asal-usul tari Walang Kekek hingga perjalanan kariernya di dunia seni tari.
Perayaan HUT ke-15 TITD Yue Yang Tang juga dihadiri perwakilan klenteng dari sejumlah daerah, antara lain Semarang, Yogyakarta, Purworejo, dan Pekalongan. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut diisi dengan pemilihan locu atau pelayan altar serta pembagian kimsin, yakni patung dewa yang dapat dibawa umat untuk keperluan sembahyang di rumah.
Sony mengaku senang melihat antusiasme umat dan masyarakat sekitar yang turut meramaikan peringatan tersebut. Ia berharap perayaan serupa dapat terus menjadi sarana menjaga tradisi sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.
Baginya, pelestarian identitas budaya harus berjalan beriringan dengan sikap saling menghormati. Masyarakat dapat mempertahankan tradisi masing-masing tanpa mengurangi penghargaan terhadap budaya dan keyakinan orang lain.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemilihan locu dan pembagian kimsin pada pukul 20.30 WIB. Kegiatan kemudian ditutup dengan turun sesaji, pembagian buah kepada umat, serta sembahyang bersama mulai pukul 21.30 WIB.
Melalui perayaan ini, TITD Yue Yang Tang tidak hanya menandai perjalanan 15 tahun keberadaannya, tetapi juga mengajak masyarakat menjaga warisan budaya dan memperkuat toleransi. Pesan “Wong Jowo ojo ilang Jowone, wong Cino ojo ilang Cinone” menjadi pengingat bahwa identitas budaya perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya, tanpa kehilangan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman. ***










