Beranda / NEWS / Samuel Wattimena: Pancasila Adalah Way of Life Bangsa Indonesia

Samuel Wattimena: Pancasila Adalah Way of Life Bangsa Indonesia

SEMARANG, obyektif.tv – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan bahwa Pancasila merupakan way of life atau pedoman hidup bangsa Indonesia yang telah terbukti menjaga persatuan dan keutuhan negara di tengah keberagaman yang dimiliki bangsa ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Samuel dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026). Menurutnya, Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup masyarakat Indonesia dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

“Pancasila adalah dasar negara dan alat persatuan. Bung Karno tidak pernah berhenti memikirkan bagaimana mempersatukan rakyat dan bangsa Indonesia. Seluruh tujuan yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bermuara pada kesejahteraan dan kemajuan rakyat,” ujarnya.

Samuel menjelaskan, gagasan yang dirumuskan oleh Soekarno lahir dari pemikiran mendalam mengenai masa depan bangsa. Menurutnya, Bung Karno memandang kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan, tetapi juga mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur tanpa kemiskinan.

“Definisi kesejahteraan menurut Bung Karno adalah tidak adanya kemiskinan di Indonesia merdeka. Tujuan kemerdekaan adalah menghadirkan masyarakat yang adil dan makmur,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Samuel turut mengisahkan percakapan antara Bung Karno dan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito. Saat itu Bung Karno bertanya kepada Tito mengenai nasib bangsanya setelah dirinya meninggal dunia.

Tito menjawab bahwa Yugoslavia memiliki tentara yang kuat dan tangguh untuk menjaga negaranya. Namun ketika Tito balik bertanya tentang Indonesia, Bung Karno menjawab dengan tenang bahwa dirinya tidak khawatir karena telah meninggalkan sebuah way of life bagi bangsanya, yakni Pancasila.

“Aku tidak khawatir, karena aku telah meninggalkan bangsaku dengan sebuah way of life, yaitu Pancasila,” kutip Samuel.

Menurut Samuel, sejarah kemudian menunjukkan betapa pentingnya peran Pancasila dalam menjaga persatuan bangsa. Meski Indonesia memiliki wilayah kepulauan yang luas serta keragaman etnis, budaya, dan agama yang sangat besar, bangsa ini tetap mampu berdiri kokoh sebagai satu negara.

Sebaliknya, Yugoslavia yang secara geografis lebih terhubung dan memiliki tingkat keberagaman yang lebih rendah justru mengalami disintegrasi dan pecah menjadi beberapa negara.

Samuel juga mengingatkan bahwa Bung Karno tidak pernah mengklaim sebagai pencipta Pancasila. Presiden pertama Indonesia itu menyatakan bahwa dirinya hanya menggali nilai-nilai luhur yang telah hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia dan merumuskannya menjadi lima sila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara.

Menutup refleksinya, Samuel mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga Indonesia dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika kehilangan uang, kita masih bisa mencarinya kembali. Namun jika kehilangan negeri ini, kita tidak akan bisa menggantikannya. Karena sejarah, perjuangan, darah, dan keringat bangsa ini ada di tanah air Indonesia,” tegasnya.

Ia berharap peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam menjaga persatuan, toleransi, dan semangat gotong royong demi masa depan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *