Beranda / LIFESTYLE / SENI BUDAYA / Sarasehan Kiai Jungke Jadi Titik Awal Penelusuran Sejarah Tokoh Lokal Semarang

Sarasehan Kiai Jungke Jadi Titik Awal Penelusuran Sejarah Tokoh Lokal Semarang

SEMARANG, obyektif.tv – Upaya menelusuri jejak sejarah Kiai Jungke memasuki babak baru melalui Sarasehan Kiai Jungke yang digelar di Musholla Baitul Makmur, Kampung Pandansari VII, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jumat (26/6/2026) malam. Forum yang mempertemukan akademisi, budayawan, trah keturunan, dan masyarakat itu diharapkan menjadi titik awal penelusuran sejarah tokoh lokal Semarang secara lebih komprehensif dan berbasis sumber.

Sarasehan yang dimoderatori Muhammad Nazaruddin tersebut menghadirkan akademisi Ali Romdhoni, budayawan Yudi Prastiawan, trah Mataram, para dzuriyah Kiai Jungke, serta warga sekitar. Berbagai dokumen, silsilah keluarga, dan perspektif sejarah dipaparkan sebagai bahan diskusi sekaligus membuka ruang kolaborasi untuk mengungkap jejak Kiai Jungke secara lebih objektif.

Trah Panembahan Juminah generasi ke-15, Marsudiyana, mengungkapkan bahwa berdasarkan surat keterangan dari Kepatihan Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang diterbitkan sekitar tahun 1949, garis keturunan yang terhubung dengan Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam, berasal dari istri Kiai Jungke, yakni Raden Ayu Noyowongso, putri Raden Ayu Syarifah Mertokusumo dari Jepara.

Menurutnya, dokumen tersebut menjelaskan bahwa Kiai Jungke merupakan keturunan Raden Ayu Mertokusumo yang bersambung hingga Panembahan Juminah dan Panembahan Senopati. Dalam dokumen yang sama juga disebutkan bahwa Kiai Jungke hanya memiliki seorang putra, yakni Raden Mas (RM) Moh Ahmad Bustam Kertoboso, yang kemudian dikenal sebagai tokoh penting di wilayah Terboyo dan Bustaman.

“Dari keturunan beliau kemudian lahir banyak tokoh yang memegang jabatan penting, terutama di wilayah pesisir utara Jawa. Karena itu, sejarah Kiai Jungke perlu terus dikaji berdasarkan data dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Yono itu menjelaskan, nama “Kiai Jungke” diyakini berasal dari kampung tempat tokoh tersebut bermukim. Adapun nama aslinya disebut Noyowongso, sehingga masyarakat lebih mengenalnya sebagai Kiai Jungke karena tinggal di Kampung Jungke.

Ia juga menyebutkan bahwa keturunan Bustam Kertoboso hingga generasi kelima memperoleh hak menggunakan gelar Raden Mas berdasarkan surat dari Kepatihan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dalam kesempatan itu, Yono turut mengusulkan agar nama Kiai Jungke diabadikan sebagai nama jalan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan sejarah tokoh tersebut.

“Kalau masyarakat menghendaki, usulannya bisa diajukan melalui mekanisme resmi pemerintah. Harapannya nanti ada Jalan Jungke Noyowongso sehingga masyarakat semakin mengenal sejarah tokoh ini,” katanya.

Salah seorang trah Kiai Jungke, RM Perry Soejoto, mengatakan kehadirannya dalam sarasehan merupakan bentuk panggilan batin untuk kembali menyambung ikatan dengan sejarah leluhur.

“Saya datang dari Cibinong karena merasa terpanggil. Tidak semua keturunan hadir, tetapi saya percaya di setiap generasi selalu ada yang terpanggil untuk menjaga dan meneruskan sejarah leluhurnya,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan setiap tahun sebagai wadah mempererat silaturahmi antarketurunan sekaligus menjaga semangat melestarikan sejarah Kiai Jungke.

Trah Kiai Jungke berfoto bersama usai mengikuti Sarasehan Kiai Jungke di Musholla Baitul Makmur, Kampung Pandansari VII, Semarang Tengah, Jumat (26/6/2026) malam.

Senada dengan itu, dzuriyah Kiai Jungke generasi kedelapan dari garis RM Abdullah Bustam Kertoboso, Raden Ngaten Dina Noviastanti, menilai sarasehan menjadi momentum untuk mempertemukan kembali keluarga besar yang selama ini terpencar sekaligus memperkaya pengetahuan mengenai silsilah keluarga.

Menurutnya, berbagai informasi yang berkembang dalam forum tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam agar menghasilkan rekonstruksi sejarah yang objektif.

“Kita tidak bisa langsung mengatakan ini benar atau salah. Sejarah harus terus digali berdasarkan data sehingga mendapatkan objektivitas yang sebenarnya. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat, terutama bagi generasi muda, untuk mempelajari sejarah karena kita semua lahir dari sejarah,” ujarnya.

Akademisi sekaligus peneliti sejarah Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Ali Romdhoni, menilai sarasehan ini merupakan langkah penting untuk menghidupkan kembali sejarah lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Menurutnya, diskusi berlangsung produktif karena seluruh peserta menyampaikan pandangan berdasarkan dokumen dan sumber sejarah, bukan sekadar cerita turun-temurun. Keterkaitan silsilah Kiai Jungke dengan Panembahan Senopati, lanjutnya, menjadi pintu masuk bagi penelitian yang lebih mendalam.

Ali juga menyebut jaringan keturunan Bustam Kertoboso yang tersebar di Semarang, Kendal, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Lasem, Yogyakarta, Surakarta, hingga wilayah Kedu merupakan potensi besar untuk memperkaya kajian sejarah.

“Ke depan, Kampung Jungke dapat menjadi episentrum penelusuran sejarah sekaligus tempat berkumpulnya para balung pisah atau keturunan yang kini tersebar di berbagai daerah. Dari sinilah penelitian sejarah Kiai Jungke dapat terus dikembangkan secara lebih utuh dan berbasis sumber,” pungkasnya.

Sarasehan ini menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi antara akademisi, budayawan, trah keturunan, dan masyarakat dalam menelusuri sejarah Kiai Jungke secara lebih objektif. Melalui pengumpulan dokumen, penelusuran silsilah, dan kajian akademik yang berkelanjutan, forum tersebut diharapkan mampu memperkaya khazanah sejarah lokal sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Semarang bagi generasi mendatang. ***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *